Mengenai Saya

Foto saya
jember, Jawa timur, Indonesia
Alumni fisika MIPA Universitas Jember


 Sejak beribu-ribu  tahun yang silam terdapatlah di suatu kota yang kuno dua orang bersaudara yang sedang menyambut terbitnya matahari pagi di rumah mereka pada musim kemarau yang indah. Rumah tersebut dirindangi dengan pohon-pohon anggur, dikelilingi oleh pohon yang indah dan anggun, diselimuti udara yang sejuk, dipenuhi dengan bunga dan pohon, dan semuanya serba indah.
Mereka sedang melihat ibunya yang sedang berjalan di kebun diantara pohon-pohon dan bunga-bunga. Kemudian terjadilah dialog diantara mereka berdua:
Adik ; “tidakkah Kau melihat seorang wanita yang lebih cantik dari temannya, sungguh seakan-akan dia seorang ratu.
Kakak; benar-benar cantik! tetapi tidak seperti ibu kita, sungguh pakaiannya indah sekali, tetapi wajahnya tidak menampakkkan sesuatu yang mulia, sedikit lembut dan simpati dan tidak tampak di wajahnya apa yang tampak pada wajah ibu kita seperti ketenangan, kelapangan dan kelembutan jiwa serta perasaan yang halus. Ibu kita ibarat ratu yang sesungguhnya.
Adik; Engkau benar wahai saudaraku! di kota ini tidak ada seorang wanita yang menyerupai sifat ratu kecuali ibu kita tercinta.
Ketika terjadi dialog, ibunya menemui mereka berdua. Beliau berpakaian putih sangat sederhana, tampak sempurna, penuh wibawa dan tidak memakai perhiasan cincin di jarinya dan kalung yang gemerlap, hanya bagian ujung kepalanya dihiasi dengan anyaman pita di rambutnya yang panjang  dan keemasan. Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadanya perhiasan yang berharga berupa senyuman yang menawan dan wajahnya yang tampak ceria.
Kemudian ibunya menghampiri mereka berdua, “hai anakku ! Aku akan memberitahukan sesuatu kepada kalian berdua!, lalu mereka memperhatikannya dengan seksama, lantas kakaknya bertanya; berita apa yang Ibu akan beritahukan kepada kami ?
Beliau menjawab; kalian berdua akan makan siang bersama kami di kebun ini, dan akan melihat temanku dan permatanya yang indah yang sering engkau dengar. Lalu mereka terheran-heran dengan permata yang ada di jari-jari, tangan, leher dan kedua telinganya. Kemudian mereka terkejut dengan apa yang telah dikatakan ibunya tentang kotak permata milik temannya tersebut. Dalam hati mereka berkata “tidak mungkin nyonya itu memiliki permata lebih dari yang ia pakai. Tetapi mereka tetap tenang sampai melihat sesuatu yang sebenarnya dan menyaksikan sendiri permata berharga yang ada di kotak.
Tetkala mereka semua sarapan siang di kebun, lalu teman ibunya membuka kotak permata di hadapan mereka. Lantas mereka heran dengan permata yang ada di kotak tersebut. Didalamnya terdapat kalung dari intan putih yang berharga, seakan-akan permata itu jarang di jangkau oleh aqal, dilihat oleh mata. Permata tersebut mengandung unsur emas, intan berlian yang berkilau dan bersinar seperti sinarnya matahari yang terang, laksana permata ya’qut yang berwarna biru langit nan jernih.
Mereka melihat permata itu dengan kagum dan lama sekali memandangnya. Dalam hati adiknya berkata “aku berharap ibuku punya sesuatu dari permata ini yang berharga dan langka, niscaya dia akan menjadi orang yang paling baik dalam berhias. Tapi beliau tidak memiliki apapun darinya. Kemudian kotak tersebut ditutup, lalu dibawa pulang oleh pembantunya.
Setelah itu, dia bertanya kepada ibunya; Apakah benar apa yang dikatakan orang-orang bahwasanya kamu tidak memiliki permata wahai Aisyah? Apakah engkau seorang yang fakir seperti yang aku dengar?
Beliau menjawab: tidak! “aku bukan orang yang fakir seperti yang di duga oleh orang-orang. Tetapi aku adalah seorang yang kaya dan memiliki perhiasan yang lebih berharga dari permata ini.
Meskipun aku tidak memiliki permata yang indah dan emas yang berkilau, tapi kedua anakku, Muhammad dan Ali adalah permataku, perhiasanku, kekayaanku, dan buah hatiku. Di dunia tidak ada permata yang lebih berharga dari pada kedua anakku yang cerdas dan pintar. Mereka berdua merupakan contoh anak yang cerdas, pintar, ikhlas dan sempurna.
Kedua anak itu akan selalu ingat kebanggaan terhadap ibunya dan merasakan cinta kasih seorang ibu, serta berterima kasih atas didikannya dan rawatannya. Dan ketika di masa yang akan datang mereka menjadi seorang yang sukses maka pada hari itu mereka akan teringat adegan ini yang telah diperagakan oleh ibunya di kebun dan mereka akan memujinya dengan kelembutan hati ibunya.


        Aneh sekali! Mana mungkin menghubungkan Fisika dan uang? Umumnya  orang berpandangan bahwa hubungan fisika dengan uang adalah seperti langit dan bumi. Fisika dianggap jurusan  kering yang tidak menghasilkan banyak uang sehingga seringkali ada olok-olok mengatakan bahwa orang-orang yang masuk jurusan fisika adalah orang-orang yang emdees (masa depan suram).
        Namun perkembangan cepat dalam dunia ini sedikit demi sedikit merubah dikotomi fisika dan uang ini. Makin lama fisika makin dekat dengan uang.  Analisa-analisa di Pasar uang internasional yang semakin rumit  membutuhkan banyak jasa fisikawan. Pasar-pasar uang ini  telah membuktikan bahwa lebih menguntungkan jika dapat memanfaatkan fisikawan dengan teori fisikanya untuk menganalisa suatu sistem dinamis yang rumit seperti saham, efek, valas ataupun derivatif.
        Sekarang ini banyak Bank dan institusi keuangan memperkerjakan fisikawan. Dengan  kemampuan matematika,  kemampuan komputer dan logikanya, para fisikawan ini mampu menganalisa masalah-masalah keuangan  yang sangat kompleks. Untuk pekerjaan yang rumit ini fisikawan mendapat imbalan yang sangat bagus. Fisikawan yang bekerja di bidang keuangan (dikenal sebagai quants atau quantitave analyst) dikenal karena gajinya yang sangat tinggi. Salah satu iklan di suatu majalah menuliskan “Wanted: an organized physicist with good modelling and programming skills, and a flair for communication. Salary: £40 000 rising to £150 000 after one year.”  Tidak heran kalau kini fisikawan (termasuk John Sleath pemenang astronomy prize) banyak yang memasuki sektor-sektor keuangan. Disamping sebagai analis, para fisikawan ini ada pula yang membuka perusahaan sendiri dan menjadi enterpreneur seperti J.P Bouchaud, Doyne Farmer dsb.

        Kebanyakan fisikawan yang bekerja di bidang keuangan adalah bekerja sebagai analis kuantitatif (quants=quantitative analyst). Mereka mengamati  kelakuan berbagai efek atau saham dimasa lampau kemudian memprediksi jangkauan nilai dari efek atau saham itu di waktu mendatang. Quants juga berkaitan dengan derivatif – produk keuangan seperti future dan opsi. Dalam future, kita akan membeli sesuatu diwaktu mendatang dengan harga yang telah ditentukan sekarang. Dalam opsi, kita punya hak untuk membeli sesuatu pada harga yang diberikan di waktu mendatang. Dengan membuat model pasar efek, quants dapat menghitung harga yang cukup masuk akal untuk suatu derivatif.
        Untuk menganalisa pasar, fisikawan atau quants dapat memilih berbagai model. Model yang sering dipakai banyak yang didasarkan pada model yang dikembangkan Bachelier pada tahun 1900-an. Model ini berdasarkan gerak acak (random walk). Persamaan Black & Scholes yang terkenal juga mempunyai hubungan erat dengan model Bachelier ini.
        Namun model Bachelier terlalu sederhana. Model ini tidak mampu memprediksi adanya “crash”. Fisikawan membutuhkan model yang lebih kompleks untuk menganalisa data yang jumlahnya luar biasa banyaknya. Fisikawan dalam hal ini harus mengembangkan intuisinya untuk memanfaatkan ide dan metode dalam fisika statistik seperti critical phenomena, termodinamika, turbulence dan fenomena non-equilibrium lainnya ataupun model lainnya  untuk kemudian mengembangkan perhitungan komputer guna mendapatkan analisa yang tepat untuk pasar yang sedang diamati itu.
        Baru-baru ini C. Tannous dan A. Fessant  dalam artikelnya di European Physical Journal Perancis mengklaim bahwa dengan  menggunakan teori pembakaran bahan bakar mereka mampu memprediksi perubahan mendadak yang terjadi pada nilai suatu saham.  Menurut mereka proses  pembakaran bahan bakar dapat tiba-tiba terjadi setelah perioda stabil yang cukup lama. Tannous dan Fessant mengatakan bahwa ini mirip dengna kelakuan dari beberapa saham yang cenderung melompat setelah waktu yang cukup lama dalam kestabilan. Keduanya kemudian mengaplikasikan pengetahuan mereka tentang fisika condensed matter untuk mengamati fluktuasi dari beberapa saham ini. Menurut mereka, penemuan ini dapat menolong pengalisa pasar untuk memprediksi kapan dan seberapa besar suatu saham akan naik dan turun setelah masa kestabilan yang cukup lama.
        Tannous dan Fessan meneliti beberapa perusahaan besar dan kecil dari industri dan ekonomi yang berbeda sebagai sampel. Kemudian mereka memodifikasi persamaan proses pembakaran ini dan menganalogikan konsentrasi bahan bakar dengan harga saham. Dengan menggunakan data 5 tahun terakhir dari perusahaan-perusahaan itu mereka menganalisa kapan saham melompat. Ternyata hasil analisa mereka cukup akurat dan sangat menggairahkan para analis untuk memanfaatkannya.
        Selain model fisika statistik, ada model-model lain seperti model gempa, model rangkaian listrik yang dikembangkan untuk menjelaskan terjadinya “crash” itu. Takayasu dari Jepang membuat suatu  rangkaian listrik dengan menggunakan amplifier, hambatan, hambatan geser, dioda dan kapasitor.  Output rangkaian ini kemudian  digunakan untuk menjelaskan kelakuan statistik dari perubahan nilai valuta asing (yen terhadap dollar). Hasil analisanya sangat menggembirakan.
        Banyak model-model lain terus dikembangkan untuk menganalisa pasar uang yang sangat dinamik ini. Kini makin banyak  fisikawan yang bergairah  untuk menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi dalam pasar uang ini. Gairahnya  sama seperti ketika beberapa waktu yang lalu, fisikawan  menganalisa data-data geologi untuk mengembangkan bidang geofisika atau menggunakan data-data atmosfir untuk mengembangkan fisika atmosfer ataupun data-data biologi untuk mengembangkan biofisika. Perkembangan ini sangat menggembirakan.
        Di Indonesia, penelitian ke arah fisika uang ini belum banyak  Banyak fisikawan Indonesia tidak mengenal apa itu ekonofisika, suatu cabang  baru fisika yang berkaitan dengan masalah-masalah ekonomi (terutama masalah keuangan). Ketidakperdulian dan ketidaktahuan para fisikawan ini terjadi karena kurangnya informasi yang mereka terima. Mudah-mudahan kedepannya dengan lebih banyaknya informasi yang masuk, makin banyak fisikawan yang mendalami fisika uang ini. (***)
(Yohanes Surya)



Seperti apa rasanya berjalan di bulan? Mungkin orang yang paling tahu jawabannya adalah Neil Armstrong dan Buzz Aldrin yang berhasil mendarat di permukaan bulan pada tahun 1969. Dari rekaman peristiwa bersejarah ini terlihat bahwa mereka tidak tampak seperti melangkah di bulan, tetapi justru lebih menjurus pada bouncing (seakan memantul di permukaan bulan tanpa pernah bergerak maju). Hal ini sebenarnya sudah diramalkan oleh Giovanni Cavagna, seorang fisiolog dari University of Milan, sejak tahun 1964. Apakah ini berarti bahwa manusia sebenarnya tidak dapat melangkah atau berjalan di bulan? Di lain waktu, Cavagna mengemukakan bahwa melangkah di bumi justru membutuhkan lebih banyak usaha (lebih susah) dibandingkan melangkah di tempat-tempat lain yang memiliki gravitasi relatif lebih kecil dari gravitasi bumi. Walaupun terdengar saling bertolak belakang, kedua pernyataan Cavagna sebenarnya dapat dijelaskan menggunakan konsep-konsep Fisika Biomekanika. 
Dalam salah satu percobaannya, Cavagna menggunakan sebuah pesawat Airbus A-300 sebagai sebuah laboratorim fisika raksasa yang dipenuhi dengan berbagai peralatan ilmiah. Sebuah pendulum diayunkan pada kecepatan konstan saat pesawat berada pada ketinggian 30.000 ft. Sementara itu, rekan Cavagna, Norman Heglund, berjalan bolak-balik sepanjang lintasan 10 ft dengan kecepatan tetap pula. Tiba-tiba pesawat mengubah arah terbangnya sehingga hampir vertikal ke atas. Selama kurang lebih 20 detik ruangan pesawat berada pada keadaan tanpa gravitasi (zero gravity) sehingga Cavagna dan Heglund terlihat seperti melayang/mengapung di udara seakan tidak memiliki massa (weightless). Pilot pesawat kemudian mengatur posisi sehingga tingkat gravitasi dalam ruangan menjadi 40% dari gravitasi normal di bumi (0,4g). Keadaan ini sangat mirip dengan kondisi gravitasi di planet Mars. Saat itu pendulum terlihat berayun dengan sangat lambat, seakan membuat lintasan melingkar yang sangat panjang, sementara Heglund masih berjalan melangkah bolak-balik dengan langkah-langkah panjang dan kecepatan sangat lambat. Ini merupakan simulasi melangkah di planet Mars. Heglund merasakan bahwa usaha yang dikeluarkan untuk melangkah pada keadaan 0,4g jauh lebih kecil dari melangkah di permukaan bumi, seakan tanpa beban, tetapi dengan kecepatan yang jauh lebih kecil pula.
Untuk menghemat energi, manusia melangkah dengan menggunakan prinsip gerakan pendulum. Pendulum mengubah energi gerak yang mengayunnya menjadi energi potensial gravitasi, dan sebaliknya (gerakan harmonik sederhana). Pada titik terendah (titik pusat kesetimbangan), pendulum mencapai kecepatan maksimum sehingga energi kinetiknya, EK = ½mv2, mencapai nilai tertinggi, sementara energi potensialnya mencapai nilai terendah. Pada titik tertinggi kecepatannya menjadi 0 (berhenti sesaat), tetapi energi potensialnya, EP = mgh, mencapai maksimum. Di titik ini pendulum mengubah energi potensialnya menjadi energi kinetik sehingga pendulum kembali memiliki kecepatan dan bergerak jatuh menuju titik kesetimbangannya. Di titik ini energi kinetik yang sudah mencapai maksimum dikonversikan kembali menjadi energi potensial sehingga pendulum bergerak terus menuju titik tertingginya, dan seterusnya. Konversi energi kinetik menjadi energi potensial, dan sebaliknya, tidak mencapai 100% (tetapi mendekati 100%) karena adanya gesekan dengan udara dan tali yang mengikatnya yang menyebabkan terjadinya hilang energi sehingga lama-kelamaan pendulum akan berhenti berayun dan diam pada titik kesetimbangannya.
Manusia meniru konsep ini untuk berjalan dan melangkah, tetapi gerakan yang dilakukan manusia merupakan sistem pendulum yang tidak sempurna karena konversi energi hanya mencapai 65% (hilang energi mencapai 35%). Ini berarti bahwa manusia membutuhkan pasokan energi (dari makanan) untuk menggantikan energi yang hilang tersebut. Inilah yang menyebabkan usaha yang dibutuhkan untuk berjalan di bumi menjadi lebih besar (lebih susah).
Hilang energi yang terjadi disebabkan aktivitas otot-otot kaki yang saling berkontraksi untuk mengadakan penyesuaian terhadap perubahan kekuatan dan arah energi saat melangkah. Pada saat kaki menyentuh permukaan tanah, terjadi gerakan memutar ke dalam (pronate). Gerakan ini meregangkan otot kaki sehingga bersifat seperti pegas yang berusaha beradaptasi dengan permukaan tanah dan menghindari terjadinya patah tulang akibat tumbukan antara kaki dengan tanah. Saat kaki terangkat kembali dari tanah, terjadi gerakan memutar keluar (supinate) yang menyebabkan tegangnya otot-otot kaki sehingga bersifat seperti pengungkit kaku yang dapat mendorong kaki lepas dari permukaan tanah.   Kontraksi pada otot-otot kaki ini membutuhkan energi panas yang diambil dari energi yang seharusnya dikonversikan dari energi kinetik ke energi potensial dan sebaliknya.
Pada saat berjalan di bulan maupun di Mars, energi potensial manusia menjadi sangat kecil karena gravitasi yang sangat kecil pula. Kecepatan optimum dicapai saat energi kinetik sama besarnya dengan energi potensial gravitasi. Karena energi potensial menjadi 40% (di Mars) dari energi potensial manusia di bumi, maka energi kinetiknya pun menjadi kecil sehingga kecepatan optimum menjadi semakin kecil. Di permukaan bulan, dengan gravitasi hanya 0,17g (energi potensial hanya 17% dari energi potensial di bumi), manusia hanya bisa berjalan dengan kecepatan yang sangat kecil sehingga pergerakan maju hampir tidak terlihat (seperti bouncing di tempat), tetapi usaha yang dibutuhkan menjadi sangat kecil karena hilang energinya sangat kecil (dapat diabaikan). Sebaliknya, jika manusia melangkah di permukaan dengan gravitasi yang lebih besar dari gravitasi bumi (misalnya pada 1,5g), kecepatan optimum yang dapat dicapai menjadi sangat besar sehingga manusia bisa berjalan sangat cepat tetapi langkah-langkahnya terasa sangat berat, bahkan terasa seakan jatuh ke depan. Keadaan ini dianalogikan dengan manusia yang berjalan di bumi sambil membawa beban seberat setengah berat badannya sendiri.
Ternyata strategi untuk melangkahkan kaki sangat sederhana, sesederhana gerak ayunan sistem pendulum yang diaplikasikan dalam Fisika Biomekanika. (***)




Apa yang terjadi ketika kita menuangkan pasir sedikit demi sedikit ke atas lantai? Ya betul, pasir akan membentuk suatu bukit pasir kecil. Jika kita terus menuangkan pasir, bukit pasir ini makin lama makin besar dan makin tinggi. Ketika bukit pasir mencapai suatu ketinggian tertentu yang kita sebut ketinggian kritis terjadilah suatu  keanehan. Pada ketinggian kritis ketika kita terus menjatuhkan butir pasir, butir-butir pasir ini mengatur dirinya, mempertahankan agar kemiringan bukit pasir tidak berubah.  Memang bukit semakin besar, tetapi kemiringan tetap sama.  Aneh bukan? Sepertinya pasir-pasir ini punya otak untuk menghitung agar kemiringan bukit pasir tidak berubah.
            Peristiwa pengaturan diri seperti yang terjadi pada pembentukan bukit pasir ini merupakan satu diantara ribuan bahkan jutaan peristiwa pengaturan diri yang terjadi di alam ini. Peristiwa-peristiwa pengaturan diri ini  terjadi ketika suatu sistem berada pada kondisi kritis. Pada kondisi kritis, tiap individu berinteraksi dengan individu-individu lain. Kemudian individu-individu ini secara bersama-sama mengatur dirinya (self organizing criticality) sehingga mem-brojol-lah (emerge) sesuatu keadaan yang baru, yang berbeda dari biasanya. Dalam fisika, proses pengaturan diri pada kondisi kritis dikenal sebagai fenomena kritis (critical phenomena).
            Apa yang terjadi pada air yang berada dalam kondisi kritis (kondisi dimana air berada dalam wujud cair dan gas secara bersamaan yaitu ketika air berada pada  tekanan 218 kali tekanan udara normal dan  suhu 3740C)? Disini juga terjadi proses pengaturan diri (self organizing criticality). Ketika suhu air kritis ini diturunkan sedikiiit saja, secara tiba-tiba seluruh molekul (tidak hanya satu, ya seluruh molekul), sepertinya ada yang menyuruh,  mengubah air kritis menjadi cair. Atau ketika tekanan diturunkan sedikiit saja, maka secara tiba-tiba seluruh molekul akan mengubah air ini menjadi gas.
            Proses pengaturan diri ini terjadi juga pada fenomena magnet yang dipanaskan sampai suhu kritis  yang dinamakan suhu Curie. Magnet yang dipanaskan melewati suhu kritis ini    secara tiba-tiba dapat kehilangan sifat magnetnya.  Ataupun pada fenomena superkonduktor yaitu ketika suatu material didinginkan hingga suhu tertentu yang kita namakan suhu kritis,  secara tiba-tiba kehilangan hambatan listriknya.
            Dalam biologi peristiwa pengaturan diri ini terjadi pada angsa-angsa yang hidup didaerah 4 musim. Ketika musim dingin tiba angsa-angsa berada pada kondisi kritis. Jika mereka diam ditempat mereka akan mati, sebaliknya jika mereka harus terbang sendiri ribuan kilometer mencari daerah hangat, mereka juga akan mati (tidak sanggup terbang sejauh itu). Pada kondisi kritis ini terjadilah pengaturan diri,  angsa-angsa ini secara ajaib membentuk suatu kelompok dan terbang dalam suatu formasi berbentuk huruf “V”. Pada formasi ini angsa terdepan  mengeluarkan tenaga paling besar,  ia membuka jalur udara untuk angsa-angsa dibelakangnya, sehingga angsa dibelakangnya dapat menghemat energi. Ketika angsa terdepan ini lelah, angsa dibelakangnya menggantikannya. Mereka mengatur diri hingga mereka bisa keluar dari kondisi kritis ini.
            Ketika seorang dikejar anjing galak, orang itu berada pada kondisi kritis. Disini sel-sel tubuh orang ini mengatur diri. Sel-sel ini secara serentak mengubah ATP (adenin Tri phospat) menjadi ADP (adenin diphospat) dengan melepaskan phospatnya. Pengubahan ini menghasilkan energi ekstra yang digunakan untuk keluar dari kondisi kritis ini. Yang semula orang itu hanya bisa melompat 1 meter, kini secara tiba-tiba mampu melompat lebih dari 1,5 meter.
            Ketika mengikuti acara pemberian medali Olimpiade Fisika Internasional, saat nama sang absolute winner (juara) diumumkan, secara serentak penonton berdiri memberikan tepuk tangan yang terus menerus, dengan irama yang enak didengar. Kembali kondisi kritis mendorong pengaturan diri (self organizing).
            Peristiwa pengaturan diri pada kondisi kritis (Self organizing criticality) ini terjadi juga dalam bisnis atau kehidupan sosial. Seorang pebisnis ketika bisnisnya berada pada kondisi kritis, secara tiba-tiba menemukan jalan keluar, ada proses pengaturan diri dimana lingkungan (semesta) membantu dia untuk keluar dari krisisnya. Mereka sering namakan ini invisible hand. Atau seorang yang ingin sekali sembuh dari penyakitnya secara ajaib mendapat petunjuk dari sekelilingnya (dari temannya, saudaranya ataupun dari alam sekelilingnya) untuk sembuh dari penyakitnya. Alam mengatur dirinya untuk ia keluar dari kondisi kritis. Menurut suatu penelitian tubuh kita sudah mempunyai mekanisme sendiri untuk menyembuhkan berbagai penyakit melalui pengaturan sel-sel tubuhnya.
            Peristiwa pengaturan diri pada keadaan kritis (self organizing criticality) untuk mengeluarkan  kita dari kondisi kritis ini saya namakan MESTAKUNG (MES = seMESta, KUNG = menduKUNG). Ketika terjadi kondisi kritis  Tuhan telah menyediakan semesta (yang dimaksud semesta dalam hal ini adalah sel-sel tubuh kita, pikiran, keluarga, teman, lingkungan dan alam sekitar kita) yang akan mengatur diri untuk membantu kita keluar dari kondisi ini.
Hukum Alam
Self organizing Criticality atau Mestakung ini merupakan  hukum alam. Sama seperti  hukum-hukum alam lainnya (misalnya hukum Gravitasi, hukum benda terapung dsb), hukum ini akan bekerja tidak tergantung pada apakah kita percaya atau tidak. Benda yang dilepas di atas permukaan bumi akan jatuh ke bawah, tidak pernah jatuh ke atas terlepas kita percaya atau tidak.  Demikian hukum Mestakung ini akan bekerja pada siapa saja terlepas kita percaya atau tidak, terlepas kita agama, suku, atau ras apapun.
Hukum Mestakung ini terdiri dari 3 hukum yang saya ringkaskan sebagai Krilangkun (merupakan singkatan dari kata KRItis, LANGkah dan teKUN). Hukum ini berbunyi sebagai berikut:
Hukum 1: hukum Kritis
„Pada setiap kondisi KRITIS    ada jalan keluar“
Hukum 2: hukum Langkah
„Ketika seorang MELANGKAH, ia akan melihat jalan keluar“
Hukum 3: hukum Tekun
„Ketika seorang TEKUN  melangkah, ia akan mengalami mestakung (semesta mendukung).
Penjelasan hukum 1:
            Telah kita lihat  dalam berbagai contoh di atas bahwa pada setiap kondisi kritis pasti ada jalan untuk keluar dari kondisi kritis itu. Semua agama mengajarkan bahwa kalau kita berada dalam kondisi kritis jangan menyerah, Tuhan Yang Maha Kuasa sudah menyediakan jalan keluar.
Ada dua jenis kondisi kritis: kondisi kritis sekarang  dan kondisi kritis yang diciptakan.
Kondisi kritis sekarang maksudnya adalah kondisi kritis yang sedang dialami atau sedang menimpa saat ini. Misalnya pada contoh diatas  angsa yang sedang menghadapi musim dingin ataupun orang yang sedang dikejar anjing. Contoh lain adalah  mereka yang sedang sakit, atau menghadapi masalah keluarga, masalah bisnis (hutang yang tidak terbayar) atau masalah apapun juga. Hukum ini mengatakan bahwa pada masalah-masalah ini ada jalan keluar. Jadi jangan takut, percayalah bahwa telah tersedia jalan keluar.
Kondisi kritis yang diciptakan adalah kondisi kritis yang kita buat sendiri. Misalnya pada contoh diatas adalah tentang pasir yang dituangkan membentuk bukit pasir ataupun air yang dibuat pada keadaan kritis. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menciptakan kondisi kritis yaitu dengan keluar dari zona kenyamanan (comfort zone) kita. Kita bisa membuat target-target yang tinggi misalnya penghasilan yang dua kali lipat lebih besar, juara dalam pertandingan tingkat dunia, membangun gereja besar, mengerti suatu hukum alam, menjadi peraih Nobel, mempunyai keluarga yang sejahtera, mendirikan sekolah ataupun mendirikan rumah sakit. Bagi mereka yang menginginkan suatu perubahan, ciptakanlah kondisi kondisi kritis berupa target-target yang tinggi.  
Penjelasan hukum 2:
Kalau kita mau melihat jalan keluar dari kondisi kritis, kita harus melangkah yaitu dengan membuat strategi untuk menyelesaikan masalah itu, rajin bertanya pada banyak orang, meminta bantuan dan nasehat orang bijak, sharing (bercerita) pada orang disekitar kita, membaca buku dan literatur, belajar dari orang yang berhasil keluar dari kondisi yang mirip, berlatih keras, ataupun merenung sambil berpikir.
Ketika kita melangkah inilah kita akan melihat titik-titik terang berupa pemecahan masalah.  Magnet pada kondisi kritis tidak mungkin kehilangan kemagnetannya kalau kita tidak menaikan suhunya. Suatu bahan superkonduktor yang berada pada suhu kritis tidak akan menjadi superkonduktor jika suhunya tidak diturunkan sedikit lagi. Angsa-angsa tidak mungkin keluar dari kondisi kritisnya jika ia tidak bertemu dengan angsa-angsa lain untuk terbang bersama. Orang yang dikejar anjing tidak mungkin lepas dari gigitan anjing jika tidak melangkah lari. Seorang yang ingin jadi presiden tidak mungkin bisa jadi presiden jika tidak membuat strategi kesana. Seorang yang ingin sembuh tidak mungkin sembuh jika tidak mencari jalan atau nasehat orang-orang yang sebelumnya pernah mengalami hal yang sama.
Penjelasan hukum 3:
Pada kondisi kritis, ketika kita terus melangkah dan melangkah dengan tekun, maka kita akan melihat mestakung, semesta mendukung kita untuk keluar dari kondisi kritis. Tuhan telah menciptakan semesta untuk kita keluar dari kondisi kritis ini. Mestakung hanya bekerja ketika kita tekun. Sel-sel orang yang dikejar anjing tidak mungkin menghasilkan energi yang lebih jika orang itu tidak tekun berlari dan berlari. Seorang Jonathan Pradhana Mailoa tidak mungkin jadi absolute winner olimpiade fisika ke 38 di Singapura jika tidak tekun berlatih dan berlatih (ketika berlatih dan berlatih keras inilah semesta mendukung, para pelatih terdorong untuk memberikan buku dan materi yang tepat, para sponsor terdorong untuk memberikan dana bagi pelatihan, keluarga mendukung, sekolah dan yayasannya mendukung, teman-temannya mendukung, semua mendukung sehingga apa yang diimpi-impikan oleh Jonathan berupa medali emas olimpiade fisika bisa tercapai).
Seorang Wahid Supriadi Supriadi tidak mungkin membuat Festival Indonesia di Melbourne. Menurut apa yang saya dengan dari Wahid Supriadi, Konsul Jenderal Indonesia di Melbourne KJRI tidak punya dana promosi untuk menyelenggarakan festival Indonesia ini. Mereka harus memutar otak untuk mencari dana. Mereka melangkah,  KJRI mendirikan Lembaga Independen Festival Indonesia Inc. dengan modal nol! Mereka melangkah lagi, mengirim surat ke ratusan perusahaan/institusi potensial baik di Australia maupun di Indonesia untuk minta dukungan. Namun, responnya sangat menyedihkan. Apakah mereka menyerah? Tidak! Pak Wahid tekun melangkah,  membangkitkan semangat para penyelenggara, menyusun strategi, menghubungi semua kontak baik individu maupun lembaga-lembaga swasta dan pemerintah yang masuk dalam mailing list KJRI, dan menjual program-program FI. Tahu apa yang terjadi? Terjadilah Mestakung di mana-mana. Mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Australia menyingsingkan lengan bajunya. Mereka bekerja bersama-sama, mengatur acara, mencari dana, mengundang orang-orang terkenal dari Indonesia untuk acara seminar, mengundang para penari untuk menunjukkan budaya Indonesia, dan sebagainya. Beberapa Pemda mulai menunjukkan komitmennya, para sponsor pelan-pelan mulai menghubungi panitia, dan juga kalangan pengusaha mulai mendaftarkan diri untuk ikut konferensi walaupun harus membayar. Bahkan dalam minggu-minggu terakhir beberapa sponsor utama datang dan menyatakan komitmennya untuk membantu festival tersebut. Ribuan orang datang ke Federal Court di Melbourne untuk menyaksikan Festival yang luar biasa ini. Selama dua hari festival budaya, makanan, dan perdagangan dihadiri sekitar 67 ribu orang, sementara business conference dihadiri sekitar 150 pengusaha, pejabat Pemda baik dari Indonesia maupun Australia. Luar biasa! Selesai acara, pemerintah kota Melbourne memberikan pujian dan meminta agar acara ini dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun di Melbourne. Pemerintah Melbourne bahkan berjanji akan mendukung termasuk pendanaannya. Luar biasa! Ketekunan membangkitkan mestakung yang membantu keluar dari kondisi kritis.
Apakah Mestakung meniadakan peran Tuhan?
Ada yang bertanya pada saya apakah dengan adanya Mestakung, tidak ada lagi peran Tuhan? Jika tidak ada peran Tuhan apakah Tuhan itu perlu ada?
Dalam konsep mestakung, kita mengenal Tuhan sebagai pencipta Mestakung. Tuhanlah yang menciptakan semesta  yang dapat mengatur diri ketika suatu sistem disekitarnya berada pada keadaan kritis,  untuk membantu sistem itu keluar dari kondisi kritis. Disini peran Tuhan sangat jelas. Tanpa Tuhan tidak akan ada mestakung. Tanpa Tuhan tidak pernah ada konsep pengaturan diri sendiri yang begitu indah.


(Yohanes Surya)


About